Sedekah Online: Bagaimana Hukumnya

berbagi listrik - sedekah online

Banyak cara untuk bersedekah. Pertama, bersedekah dengan cara manual. Misalnya: Anda bisa memberikan uang ke dalam kotak amal atau mendatangi badan-badan non-profit untuk menyalurkan dana. Kedua, Anda bisa bersedekah melalui dunia maya. Hal ini juga terkenal dengan sebutan sedekah online.

Zaman digital memang semakin mempermudah beragam transaksi. Misalnya: kalau dulu biasa mengambil uang tabungan di bank, lalu mulai beralih ke penggunaan ATM. Tidak lama kemudian, e-banking mulai banyak digunakan. Begitu juga untuk urusan transaksi lain, seperti berbelanja lewat toko online daripada datang langsung ke toko yang biasa.

Lalu, bagaimana dengan sedekah online? Meskipun transaksi digital dirasakan lebih mudah dan cepat, bagaimana dengan hukum untuk sedekah dengan cara ini?

Tatap Muka Versus Transaksi di Dunia Maya

Dengan banyaknya aplikasi pendukung zakat atau sedekah secara online, masyarakat Indonesia banyak yang memilih cara ini. Meskipun masih ada yang menggunakan cara biasa, yaitu melalui tatap muka dan pertemuan, bersedekah secara digital semakin banyak peminatnya.

Fakta ini dibenarkan oleh jumlah penyumbang zakat dan sedekah melalui Rumah Zakat, menurut Nur Efendi. Hal ini terbukti dengan meningkatnya pengguna aplikasi online dengan tujuan sedekah.

Pada tahun 2017 kemarin saja, jumlah penyumbang zakat dan sedekah secara non-tunai alias online, sudah meningkat hingga 250 milyar rupiah. Namun, hal ini juga tidak menutupi fakta bahwa sebelumnya sempat ada perdebatan mengenai keabsahan bersedekah dengan cara ini.

Unsur-Unsur Terpenting Dalam Berzakat atau Bersedekah:

Apa sajakah unsur-unsur penting di dalam berzakat atau bersedekah?

  1. Pemberi zakat.
  2. Harta yang akan dizakatkan.
  3. Penerima zakat.

Sesungguhnya, bila ketiga unsur terpenting dalam berzakat atau bersedekah ini sudah ada dan memenuhi syarat, seharusnya tidak masalah. Namun, bila dilakukan secara tatap muka, pembacaan akad dapat langsung dilaksanakan.

Namun, bila pemberian zakat atau sedekah dilakukan secara online, pembacaan akad tersebut tidak dapat dilakukan. Lalu, dari mana kita bisa tahu bahwa pemberian zakat atau sedekah tersebut dianggap sah?

Dari mana kita bisa tahu bahwa pemberi zakat telah ikhlas dan zakat yang diberikan benar-benar berasal dari hasil yang halal?

Fikih yang Mengikuti Perkembangan Zaman

Tentu saja, sama seperti berzakat atau sedekah dengan cara biasa, kita hanya bisa berserah diri, pasrah kepada Allah SWT mengenai halal atau tidaknya status zakat yang hendak diberikan. Namun, untuk keabsahan sedekah online, inilah yang sudah dilakukan:

Untuk lebih amannya, kajian mengenai sedekah online telah dilakukan oleh Ketua MUI Ma’aruf Amin dan Setiawan Budi Utomo dari pihak OJK (Otorisasi Jasa Keuangan). Berikutnya, proses berzakat atau bersedekah secara online dapat dilakukan dengan cara-cara ini:

  1. Pemberi zakat atau sedekah harus berniat dengan tulus dan ikhlas.
  2. Melalui akun si pemberi zakat atau sedekah, jumlah yang ingin diberikan ditransfer kepada penerima zakat. Aplikasi online pendukung transaksi ini bersifat sebagai platform bagi badan amal yang bersangkutan.
  3. Sebagai ganti pembacaan akad, serah terima zakat dapat dilakukan dengan cara lain. Misalnya: melalui SMS atau email konfirmasi. Dalam SMS atau email tersebut, pemberi zakat menyatakan niatnya dengan tulus dan ikhlas. Penerima zakat mendoakan pahala bagi pemberi zakat.

Ternyata, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan berzakat atau sedekah online. Selama masih sesuai dengan syariat, fikih pun bisa mengikuti perkembangan zaman. Selain lebih mudah dan cepat, waktu bagi kedua belah pihak dapat lebih efektif.

 

Sumber:

https://zakat.or.id/hukum-membayar-zakat-via-online/

http://www.nu.or.id/post/read/62583/jenis-jenis-sedekah-menurut-rasulullah-saw

http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/05/16/trend-bayar-zakat-secara-online-bagaimana-hukumnya-401251

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*